Aku kangen
menyusur Tjikini di malam hari
melangkah di trotoar kantor pos tua bergaya art deco
melewati barisan gerobak - gerobak roti Tan ek Tjoan yang menepi sebanyak lima, enam
dan lampu-lampu jalan, tidak terang, tidak juga temaram...
ngaso di pelataran Ismail Marzuki
menyuap tiga, empat bongkah tahu gejrot di wadah mungil gerabah coklat tua
tajam, beraroma bawang putih...
saling berkata tanpa ujung,
kita sudahi di bakoel coffee pecahan warung tinggi
menghirup uap-uap Arabica yang dipasangkan dengan tebaran gula palem coklat muda
berharap jikalau barista itu adalah pria tampan anak pemilik kedai,
penerus usaha kopi tertua di jakarta,
dulu, di jalan gadjah mada.
menuju menteng 13
kita pernah berjalan kaki
berdua bergandeng tangan
melewati jajanan tenda yang tak jeda-jeda
air kelapa muda, bubur ayam, pecel lele, tumpukan gorengan, nasi padang, aqua isi ulang,
standard kaki lima jakarta...
Memang, kau begitu baik pada semua
menemaniku sebentar ke deretan penjual bunga
untuk tiga atau lima batang sedap malam yang kuapit bawa
cocok mengisi kosong dalam kamarku yang tiada apa
selain tumpukan buku dan majalah yang kadang tiada disusun rapi pula
dari atas, kereta tiba dari gondang dia
agak gaduh
kemudian sayup menjauh...